Tentang Kondisi Kebangsaan: 16 Perguruan Tinggi Kecam Intoleransi di NKRI

Tentang Kondisi Kebangsaan: 16 Perguruan Tinggi Kecam Intoleransi di NKRI

Jakarta – Sebanyak 16 perguruan tinggi yang tergabung dalam Forum Komunikasi Program Studi Pendidikan Sosiologi dan Antropologi (Forkom Pendsosant) se-Indonesia menyampaikan sikapnya tentang kondisi Indonesia. Mereka menilai situasi dan kondisi kebangsaan saat ini telah mengalami semacam erosi kompetensi budaya keragaman dan erosi semangat inklusivitas menghargai keragaman budaya.

Hal itu terjadi baik dari segi etnisitas, pemikiran, dan penghargaan terhadap keragaman agama. Ketua Forkom Pendsosant se-Indonesia 2016-2018 Ubedilah Badrun mengatakan realitas meningginya tensi sosial, potensi konflik sosial, dan konflik politik, meningkat begitu tinggi dalam kehidupan masyarakat kita sebagai sebuah bangsa. Radikalisme dan intoleransi antar-masyarakat atas dasar suku, agama, ras, dan antar-golongan (SARA), dinilainya sangat merusak kebinekaan. Di saat yang sama, kata dia, indikator represifitas juga mulai memiliki semacam tafsir regulasi.

Dengan mencermati perkembangan fakta tersebut, maka Forkom Pendsosant Se-Indonesia yang terdiri dari seluruh pimpinan dan dosen program studi pendidikan sosiologi dan antropologi se-Indonesia, menyatakan sikapnya. Sikap ini berdasarkan pertemuan nasional di Universitas Negeri Manado (UNIMA) pada 3 hingga 4 Agustus.

Ada empat butir pernyataan sikap forum komunikasi tersebut. “Pertama mengecam segala sikap dan tindakan yang mengakibatkan konflik sosial, radikalisme, dan intoleransi di seluruh wilayah NKRI,” kata Ubedillah dalam siaran pers yang diterima, Sabtu (5/8).

Kedua, mendorong seluruh warga bangsa untuk bersama-sama menguatkan sikap dan tindakan menghargai kebhinekaan (multikulturalisme) yang dapat meningkatkan kesatuan dan persatuan bangsa. Ketiga, mendorong seluruh pemangku kepentingan dalam bidang pendidikan untuk memasukkan semangat dan agenda menghargai kebinekaan (multikulturalisme), mulai dari jenjang pendidikan dasar hingga pendidikan tinggi, baik melalui mata pelajaran, melalui mata kuliah atau melalui kegiatan ekstrakurikuler dan kegiatan pusat kebudayaan serta pembelajaran masyarakat. Keempat, program studi pendidikan sosiologi dan antropologi se-Indonesia siap mengagendakan, memuat, melaksanakan, dan meningkatkan pembelajaran yang menghargai keragaman di seluruh kampus anggota forum.

Forum ini terdiri dari 16 perguruan tinggi. Mereka adalah Universitas Negeri Jakarta, Universitas Pendidikan Indonesia, Universitas Negeri Semarang, Universitas Negeri Yogyakarta, Universitas Negeri Sebelas Maret, Universitas Negeri Surabaya, Universitas Negeri Malang, Universitas Muhammadiyah Makassar, Universitas Pendidikan Ganesha, Universitas Negeri Medan, Universitas Negeri Padang, Universitas Tanjungpura Pontianak, Universitas Lambung Mangkurat, Universitas Hamzanwadi Lombok, NTB, Universitas Negeri Manado, dan STKIP PGRI Sumatra Barat.

Facebook Comments