Stok Pangan DIY Aman

Stok Pangan DIY Aman

Yogyakartanews.com – Wilayah DIY saat ini sudah mulai masuk dalam periode masa pancaroba atau masa peralihan dari kemarau ke penghujan. Untuk musim hujan diprediksi baru akan terjadi pada pertengahan November 2018. Musim hujan tahun ini memang mengalami kemunduran hingga 20-30 hari atau sekitar sebulan. Idealnya pada pertengahan Oktober ini sebagian sudah mulai masuk musim penghujan, namun kenyataannya belum. Menyikapi kondisi tersebut, petani dituntut cermat dalam menentukan jenis tanaman.

“Berdasarkan hasil pantauan Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Stasiun Klimatologi Yogyakarta, di beberapa tempat terutama di bagian Utara dan tengah Yogya sudah terjadi hujan kategori ringan dengan besaran berkisar 5 mm. Kondisi seperti ini diprediksi akan berlangsung hingga beberapa hari ke depan. Hujan berpotensi terjadi di malam hingga menjelang dini hari,” kata Kepala Kelompok Data dan Informasi BMKG Stasiun Klimatologi Yogyakarta Djoko Budiyono kepada ‘KR’, Selasa (23/10).

Djoko mengungkapkan, secara umum kondisi cuaca di DIY cerah hingga berawan dengan suhu udara minimum 24 derajat Celsius dan suhu maksimum di siang hari 33 derajat Celsius. Tingkat kelembaban di malam hingga pagi hari mencapai 84-88%, sedangkan siang hari berkisar 55-60%. Oleh sebab itu potensi hujan berpeluang muncul di malam hingga menjelang pagi hari dengan kategori ringan.

Menghadapi masa pancaroba ini, BMKG meminta masyarakat untuk mempersiapkan diri menghadapi cuaca ekstrem yang berpotensi muncul pada siang menjelang sore hari. “Selain mengatur pola tanam bagi para petani, masyarakat umum juga kami minta mulai membersihkan drainase atau selokan dari sampah serta memangkas pohon yang sudah rapuh,” ujar Djoko.

Menurut Kepala Dinas Pertanian DIY Sasongko, di Kabupaten Kulonprogo memang ada beberapa tempat yang belum bisa melakukan tanam karena airnya kurang. Tapi sampai Selasa (23/10), Dinas Pertanian DIY belum menerima laporan ada lahan pertanian yang mengalami puso akibat kekeringan. Sementara untuk para petani di Gunungkidul, meski banyak daerah yang mengalami kekeringan, para petani sudah mulai menebar benih. Namun untuk penanaman padi, petani masih menunggu adanya air hujan.

“Memang musim tanam mengalami sedikit kemunduran. Biasanya pada akhir Oktober sudah mulai ada hujan sehingga petani bisa melakukan tanam. Tapi untuk tahun ini hujan diprediksikan baru akan turun pada November minggu kedua. Menyikapi kondisi seperti sekarang, petani saya minta menyiapkan lahan dengan baik, begitu ada air bisa langsung ditanami,” papar Sasongko.

Sasongko menambahkan, apabila musim kemarau di DIY tidak mengalami kemunduran, biasanya pada Januari sudah memasuki musim panen. Namun dalam kondisi seperti sekarang, musim panen diprediksi juga bakal mundur pada Februari. Kendati demikian, Dinas Pertanian DIY memastikan stok pangan khususnya padi lebih dari cukup untuk memenuhi kebutuhan.

“Meski musim tanam mengalami kemunduran kami optimis tidak akan mengganggu produktivitas pangan khususnya padi di DIY. Bahkan stok padi di DIY saat ini lebih dari cukup,” terang Sasongko.

Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DIY Biwara Yuswantana menambahkan, mundurnya musim hujan selama satu bulan jelas berdampak pada semakin panjangnya kekeringan. Untuk itu, BPBD DIY menyiapkan cukup tangki yang siap disalurkan jika ada permohonan bantuan dari Pemerintah Kabupaten (Pemkab).

“Selama ada kekeringan, ‘dropping’ air jalan terus. Tapi sejauh ini, tiga kabupaten di DIY (Gunungkidul, Bantul, Kulonprogo) masih bisa meng-‘cover’ permintaan kebutuhan air, didukung swasta dan lembaga. BPBD DIY sifatnya ‘back up’ dan koordinasi, kalau ada permintaan secara khusus kami siap,” terang Biwara.

Facebook Comments