Pemuda Lintas Agama Sepakat Tak Terprovokasi Krisis Rohingya

Pemuda Lintas Agama Sepakat Tak Terprovokasi Krisis Rohingya

Jakarta – Forum Pemuda Lintas Agama mengecam krisis yang menimpa etnis Rohingya di Myanmar. Namun, mereka juga meminta agar tidak ada stigmatisasi terhadap umat Buddha di Indonesia.

“Khususnya ke umat Islam kami imbau untuk tidak melakukan stigmatisasi terutama pada yang beragama Buddha, kami tidak ingin ada stigmatisasi konflik kebencian, sama dengan saya pemuda Muhammadiyah menolak, terhadap umat Islam, karena umat Islam di anggap kelompok radikalis,” kata Ketum PP Muhammadiyah, Dahnil Anzar Simanjuntak saat konpres, di Jalan Menteng Raya nomor 62, Jakarta Pusat, (5/9/2017).

Dahnil mengatakan pembantaian yang terjadi di Myanmar adalah pembunuhan besar-besaran terhadap etnis Rohingya. Dahnil menyebut hal itu disebabkan karena konstitusi Myanmar yang tidak mengakui eksistensi etnis Rohingya sebagai warga negara.

“Itu memicu status mereka sebagai kelompok yang tidak berkenegaraan, sehingga mengalami kerentanan terhadap sebutlah konflik horizontal disana. Kami saya ingin mendesak, perhatian banyak pihak, dalam hal ini pertama pemerintah Indonesia yang melakukan soft diplomasi yang cukup maju dan kita terus suport itu,” jelas Dahni

Terkait hal itu, Forum Pemuda Lintas Agama sepakat meminta Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) untuk memberikan perhatian khusus terkait krisis Rohingya. Mereka juga meminta hadiah Nobel pemimpin berpengaruh Myanmar Aung San Suu Kyi dicabut.

“Mendesak kepada PBB untuk memberi perhatian serius terhadap kejahatan kemanusiaan praktik genosida yang menimpa etnis Rohingya, dan membawa pihak-pihak yang harus bertanggung jawab untuk diadili ke hadapan Mahkamah Kejahatan Internasional,” urainya.

“Meminta komite hadiah Nobel untuk mencabut penghargaan Aung San Suu Kyi pemimpin yang berpengaruh di Myanmar mendapat Nobel Perdamaian, ternyata telah terbukti misi perdamaian hanya untuk memperjuangkan kebebasan dirinya, bukan karena perjuangan atas nilai kemanusiaan,” sambung Dahnil.

Pihaknya juga mendorong pemerintah untuk membantu etnis Rohingya keluar dari krisis. Forum ini juga sepakat untuk menjaga toleransi dan persatuan di Indonesia sebagai teladan umat beragama bagi warga Myanmar.

“Kami mengajak kepada seluruh kelompok agama di Indonesia untuk tidak mengaitkan kelompok ekstrem Buddha di Myanmar dengan umat Buddha lain, yang pada dasarnya merawat perdamaian, apalagi kemudian merusak toleransi umat beragama di Indonesia. Mari kita sampaikan pesan teladan kepada berbagai kelompok agama di Myanmar,” ajak Dahnil.

“Menolak segala bentuk provokasi untuk memperluas dan memindah konflik Myanmar ke Indonesia dengan membenturkan umat Islam dan umat Buddha di Indonesia,” sambungnya.

Selain itu, pihaknya juga mempersilakan masyarakat yang ingin melakukan aksi solidaritas membantu etnis Rohingya lewat bantuan-bantuan kemanusiaan.

“Secara di Muhammadiyah melakukan pendampingan kesehatan di sana. Jadi ini akan sehat buat watak dan akhlak orang Indonesia secara keseluruhan. Rasa persaudaraan kemanusiaannya tinggi sekali,” ucapnya.

Dalam konferensi pers ini juga dihadiri ketua pemuda lintas agama lainnya seperti, Ketum DPP Generasi Muda Buddhis Indonesia Bambang Patijaya, Ketum DPP Gema Mathla’ul Anwar Ahmad Nawawi, Ketum PP Syabab Hidayatullah Suhardi Sukiman, Ketum DPP Perhimpunan Pemuda Gereja Indonesia Maruli Tua Silaban, Ketum DPN Perhimpunan Pemuda Hindu Indonesia D. Sures Kumar, Ketum Peradah Indonesia I Gede Ariawan, serta Biksu Widya Sasana dari Pusdiklat Budhi Dharma.

Facebook Comments