Membentengi Diri Dari Terorisme

Membentengi Diri Dari Terorisme

Kasus terorisme yang terjadi baru-baru ini menjadi perhatian banyak orang. Pelaku tindakan teror ini telah merambat ke usia muda. Hal ini tentu mengkhawatirkan masyarakat.

Tindakan teorisme itu sendiri melibatkan tindak kekerasan yang memakan banyak korban dan meresahkan masyarakat Indonesia. Tindakan teror ini dilakukan oleh para pelaku radikal untuk mencapai sebuah perubahan yang pada dasarnya belum memahami tindak tanduk tindakan terorisme serta risiko yang akan ditanggungnya.

Istilah lone wolf muncul belakangan ini untuk menggambarkan persoalan terorisme di Indonesia. Lone wolf merupakan sebutan bagi para pelaku yang bertindak sendiri dengan memanfaatkan situasi. Pelaku teror lone wolf ini belum sepenuhnya memahami tentang ideologi radikal. Pemerintah maupun masyarakat dapat melalukan pencegahan terhadap kasus terorisme yang semakin merajalela.

Berdasarkan Global Terrorism Index 2016, yaitu kajian tahunan yang dilakukan oleh Institute for Economy and Peace (IEP), Indonesia mendapat dampak tertinggi ketiga dari aksi terorisme di ASEAN. Dampak terorisme ini ditentukan dari empat faktor yaitu jumlah kejadian, korban luka-luka, korban tewas dan seberapa besar kerusakan yang diakibatkan aksi terorisme. Sedangkan negara yang tidak terkena dampak aksi teorisme adalah Singapura dan Brunei.

Sikap preventif yang dapat dilakukan adalah menumbuhkan self-esteem kepada masing-masing individu. Self-esteem, menurut Coopersmith, merupakan penilaian personal individu mengenai perasaan berarti dan berharga yang ditunjukkan lewat sikap-sikap individu terhadap dirinya. Dalam hal ini, bagaimana masyarakat sekitar memandang individu menjadi penentu arah kesuksesan atau pun kegagalan dalam hidupnya.

Dengan demikian, menumbuhkan self-esteem yang tinggi mampu mengkonstruksi kembali nilai percaya diri dan penghargaan terhadap kemampuan diri. Pelaku teror yang mengancam keamanan dan ketenteraman negara kemungkinan memiliki self-esteemyang rendah. Mereka menjadi korban lingkungan sosial sehingga mereka cenderung untuk menutup diri, enggan mendengarkan kritik dan bantuan, serta enggan mencari solusi masalah.

Jikalau seorang individu memiliki self-esteem yang rendah, karakteristik diri dan kemampuan diri yang dianggap jauh dari ideal akan memberikan persepsi negatif, di mana orang lain seolah-olah tidak menyukainya. Persepsi diri dan perasaan individu terhadap apa yang penting bagi dirinya akan mempengaruhi bagaimana mereka bertindak.

Dengan demikian pencegahan yang dapat dilakukan tidak hanya berasal dari kontrol individu semata, akan tetapi juga dari lingkungan sosial. Hal pertama yang dapat dilakukan adalah implementasi pendidikan yang tak hanya berfokus pada kurikulum sekolah. Pendidikan yang diterima generasi muda harus juga mencangkup isu-isu terkini.

Dengan melakukan diskusi di lingkup sekolah bersama guru yang berkompeten, siswa dapat menumbuhkan kepedulian terhadap isu-isu serupa dan memiliki pedoman dalam hidup mereka ke depannya.

Peran pendidikan agama juga tak kalah penting. Pendidikan agama seharusnya mampu meluruskan penjelasan yang multitafsir. Selain itu, sekolah juga berperan dalam memupuk nilai dan aspirasi. Nilai dapat dibiasakan melalui pengalaman yang siswa dapatkan di sekolah. Misalnya, siswa diajak untuk berdiskusi bersama dan saling menanggapi untuk menanamkan rasa saling menghargai.

Cara yang kedua yaitu dengan meminimalisir kesenjangan antara pemerintah dan masyarakat. Dalam hal ini, media berperan penting dalam menyebarkan pandangan mengenai multikulturalisme yang ada di Indonesia. Upaya ini dapat membentuk paradigma positif di lingkungan masyarakat.

Masyarakat pun harus cerdas menyikapi penyampaian informasi yang ada di media. Dengan begitu, masyarakat dapat memilah berita yang sifatnya provokatif dan negatif. Literasi media adalah salah satu upaya yang bisa dilakukan untuk mencegah adanya tindak radikal di kemudian hari. Literasi media dapat diterapkan di sekolah maupun di institusi desa. Dengan melakukan dialog seputar cara memilah berita, masyarakat diharapkan tidak mudah terhasut oleh berita yang tidak jelas kebenarannya.

Selain pencegahan yang sifatnya edukatif, perlu juga dibangun kondisi sosial yang kondusif antaranggota masyarakat yang satu dan lainnya. Self-esteem dapat dibentuk dari lingkungan masyarakat itu sendiri. Misalnya, seseorang yang hanya menjadi pedagang asongan dengan pendapatan rendah tinggal di lingkungan yang rasa solidaritasnya tinggi, maka ia akan mampu membentuk self-esteem yang tinggi dengan kondisi ekonominya sekarang. Pembentukan self-esteem ini juga dapat dilakukan dengan saling tolong—menolong jika tetangga dekat mengalami masalah.

Penekanan terhadap pembentukan self-esteem baik dalam lingkup sekolah ataupun masyarakat perlu dilakukan mengingat semakin maraknya kasus terorisme yang ada. Dengan melakukan sikap preventif, hal ini dapat membantu kita untuk selalu waspada dan berpikir kritis terhadap persoalan dan berita yang ada. Sikap preventif ini tentu tidak hanya didukung oleh lingkungan masyarakat, pemerintah yang suportif, namun juga kita sebagai individu harus mampu membentengi diri dari hal-hal yang tidak inginkan. (ded/ded

Facebook Comments