Membantah Fitnah Hersubeno Arief

Membantah Fitnah Hersubeno Arief

Berlatarbelakang di bidang media dan puluhan tahun menjadi wartawan ternyata tidak selalu membuat seseorang tetap teguh pada integritasnya untuk menyampaikan tulisan berdasarkan fakta-fakta akurat.

Artikel dari Hersubeno Arief, yang lama bekerja di Republika, dengan judul “Rezim Jokowi Lebih Buruk dari Rezim SBY?” terselip beberapa fakta palsu kalau tidak bisa disebut sebagai fitnah.

Pertama adalah perbandingan mengenai ‘kebebasan pendapat’ di era SBY dan era Jokowi.

Penulis menyebutkan bahwa di era SBY kebebasan berpendapat lebih baik dari era Jokowi.

Hey… are you blind or deaf?

Pernah dengar SBY “di-cina-cinakan, dikafir-kafirkan di-PKI-PKI-kan?”

Pernah dengar?

Tidak kan.

Apa fitnah terhadap Jokowi itu Anda sebut sebagai kebebasan berpendapat?

Mikir….

Hal kedua adalah mengenai kebebasan media.

Anda ke mana saja? Apa pura-pura buta? Melihat begitu banyak media-media abal-abal bermunculan dengan konten penuh kepalsuan dibiarkan sampai membuat resah masyarakat. Memperuncing perbedaan di masyarakat. Fitnah dianggap benar. Lalu mau dibiarkan saja fitnah-fitnah bertebaran di media internet?

Apa tidak lihat konten berita di televisi (termasuk TV One) pun sering mengambil dari isu, gosip, dan fitnah dari media online yang tidak jelas kredibilitasnya?

Anda puluhan tahun di media bung! Semestinya Anda sudah sangat paham ketika media bukan menjadi pilar demokrasi malah menjadi ‘biang kerok’ konflik sosial di masyarakat. Ada batasnya bung! Kecuali kalau Anda memang tidak peduli dengan bangsa dan negeri ini. Membiarkan hancur karena fitnah dan propaganda media yang dibiarkan sebebas-bebasnya. Kau pikir ini Eropa? Amerika?

Ketiga, adalah mengenai penanganan korupsi.

Anda menyebutkan bahwa di era Jokowi KPK masuk angin untuk kasus Ahok.

Ya ampuuun…. Anda itu wartawan. Anda jurnalis. Investigasi Anda bagaimana? Punya data kuat? Punya bukti kuat. Ajukan ke KPK, bung. Jangan memfitnah bahwa KPK ‘masuk angin.’ KPK jelas masih kredibel untuk menangani kasus korupsi apabila bukti-bukti kuat memang mengarah pada tindakan korupsi. Bukan sekadar karena Anda anti terhadap Ahok (Ahok kini dipenjara, Anda belum puas?) lalu Anda menyalahkan KPK. Anda itu punya kemampuan untuk membuktikan. Bukan cuma fitnah gaya warung kopi. Asal ‘njeplak.’

Dan yang terakhir adalah, mengenai “jutaan umat Islam berunjukrasa dalam Aksi 411….”

What???!!! Jutaan??!! Dari mana? Dari Hongkong?

Anda tau berapa jumlah jemaah haji dari seluruh dunia yang berkumpul di Mekkah pada tahun 2016? 1,86 juta jiwa.

Ya hanya 1.862.909 jiwa tepatnya.

Jadi Anda bisa bayangkan ada “jutaan” jiwa yang melebihi dari jemaah haji seluruh dunia berkumpul di sekitaran Monas???

Gunakan logika. Bukan asal klaim tapi palsu.

Terakhir adalah Hersubeno mengatakan bahwa hubungan dengan umat Islam di era Jokowi tidak baik.

Bukan hubungan dengan umat Islam yang tidak baik. Tapi hubungan dengan kelompok Anda. Hubungan dengan PKS, dengan FPI, dengan HTI (yang dibubarkan pemerintah) dengan jaringan terorisme radikal, dan ormas-ormas yang mengatasnamakan Islam namun perilakunya tidak mencerahkan, sebaliknya membuat kisruh di masyarakat. Oh Anda pasti tau ini, hanya pura-pura bodoh saja.

Hubungan yang tidak baik dengan pemerintah adalah mereka yang membuat fitnah-fitnah terhadap Jokowi, bahwa Jokowi antek aseng, negara ini mau jadi provinsi China, pemerintah dibuat seakan musuh Islam. Itu semua propaganda dan agitasi buatan kelompok Anda.

Lain kali, kalau mau menulis seperti ini, di Republika saja. Punya media kok tidak dimanfaatkan, malah ‘nebeng’ ke media lain. Malu ah.

(Erri Subakti)

Facebook Comments