Khotbah Idul Adha di Istiqlal: Jalin Persatuan dalam Kemajemukan

Khotbah Idul Adha di Istiqlal: Jalin Persatuan dalam Kemajemukan

Jakarta – Wakil Presiden Jusuf Kalla beserta keluarga dan rombongan hari ini melaksanakan salat Idul Adha di Masjid Istiqlal. Usai salat Idul Adha JK mendengarkan khotbah yang disampaikan langsung oleh Kamaruddin Amir selaku khotib.

Idul Adha menurut Kamaruddin bisa menjadi momen merefleksikan keagamaan dalam kemajemukan bangsa.
“Dalam konteks Indonesia yang majemuk, bahkan sebagai negara bangsa yang paling majemuk di dunia, dengan beragam budaya, berbagai suku dan bangsa berbilang agama dan keyakinan, pemahaman dan refleksi keagamaan harus dibingkai dalam konteks kebangsaan yang majemuk ini,” kata Kamaruddin Amir saat berkhotbah Idul Adha di Masjid Istiqlal, Jumat (1/9).
Ia juga menyinggung soal cara bernegara yang baik dan benar. Kamaruddin menyebut seluruh pemeluk agama termasuk islam khususnya tidak bisa serta merta mengatasnamakan cara bernegara atas agama tertentu saja.
“Menjadi Muslim, Kristen, Katolik, Hindu, Budha, dan Konghucu yang baik dan benar harus menjadi warga Negara bangsa yang baik. Tidak boleh atas nama agama negara dengan segala instrumen-intrumennya diabaikan. Demikian pula, bernegara, berbangsa dalam konteks Indonesia yang relijius, agama harus menjadi inspirasi yang mengilhami seluruh refleksi kebangsaan kita.”
“Keragaman yang sesungguhnya mengandung potensi disintegratif akan mewujud jika dalam mengelola keragaman, egoisme, absolutisme dan ekslusivisme tak dapat kita hindarkan. Oleh karena itu, kita membutuhkan sebuah acuan bersama (common platform atau kalimatun sawaa) dalam mengelola keragaman ini,” imbuh dia.
Masyarakat, kata Kamaruddin, harus menghargai kebinekaan di Indonesia. Pemahaman keagamaan moderat menjadi suatu hal yang perlu dipahami bersama-sama oleh masyarakat agar hidup berbangsa seimbang.
Ia juga menyeru kepada jemaah untuk saling berbuat baik kepada umat agama lain. Berkaca kepada perilaku Nabi Muhammad yang mampu membina kehidupan yang rukun bersama umat dan suku-suku yang banyak di jazirah Arab.
“Ketika nabi (Muhammad) membangun entitas politik di Madinah, nabi tidak hanya mempersaudarakan kaum Muhajirin, Banu Hasyim dan Banu Muthalib dengan kaum Anshar dari Kabilah Aws dan Khazraj tetapi juga membuat perjanjian bersama dengan kaum Musyrikin dan kaum Yahudi yang terdiri dari Banu Nadir, Banu Qaynuqa dan Banu Qurayzah dengan membuat piagam Madinah yang menjadi dasar rujukan hidup bersama secara politik antar mereka,” jelasnya.

Facebook Comments