Idul Adha : Korbankan Ego, Kuatkan Persaudaraan

Idul Adha : Korbankan Ego, Kuatkan Persaudaraan

Hari Raya Idul Adha menjadi momentum bagi umat Muslim untuk menguatkan ketakwaan dengan menjalankan ibadah kurban. Menjalankan ibadah kurban menjadi bentuk ketakwaan seorang muslim sebab ibadah kurban merupakan perintah Allah Swt yang dianjurkan bagi umat Muslim, terutama yang memiliki kelapangan rezeki, sebagaimana firman Allah dalam Q.S al-Kautsar: ayat 1-2, “Sungguh kami telah memberimu (Muhammad) nikmat yang banyak. Maka laksanakanlah salat karena Tuhanmu dan berkurbanlah”.

Selain menjadi bentuk ketakwaan seorang Muslim kepada Tuhannya, menjalankan ibadah kurban juga menjadi ejawantah dari kepedulian atau solidaritas sosial pada sesama manusia. Pembagian daging kurban, terutama kepada para fakir miskin dan anak yatim, menjadi bentuk kepedulian seorang Muslim akan kondisi lingkungannnya. Artinya, ibadah kurban menjadi ajang mengasah kepekaan dan kepedulian sosial kita kepada mereka yang membutuhkan. Sebagai manusia, rasa simpati dan empati kita akan diasah lewat momentum kurban.

Di samping itu, daging kurban yang dibagikan kepada sanak saudara, tetangga, kerabat, dan lain sebagainya, akan semakin mempererat tali persaudaraan di antara sesama manusia. Terlebih, berdasarkan pendapat sebagain ulama, untuk daging kurban, terutama yang berasal dari kurban sunnah seperti saat Idul Adha, juga bisa dibagikan secara luas, termasuk kepada non-muslim. Dengan kata lain, di samping menjadi ajang mengasah kepekaan dan kepedulian sosial, berkurban juga menjadi lahan untuk merekatkan tali persaudaraan, dan membina hubungan baik antar-umat beragama, tanpa memandang perbedaan.

Berkurban memang menjadi salah satu bukti ketakwaan seorang Muslim. Dengan menyembelih hewan kurban, seorang Muslim bisa dikatakan telah menjalankan suatu perintah agama. Namun, sebagaimana tujuan ibadah lainnya, hal paling mendasar yang harus disadari seorang Muslim ketika menjalankan ibadah kurban adalah tentang bagaimana ibadah kurban tersebut bisa menjadi sarana untuk terus berbenah menjadi pribadi muslim yang lebih baik. Allah berfirman, “Daging dan darah (dari hewan yang dikurbankan) itu sekali-kali tidak sampai kepada Allah Swt, akan tetapi yang sampai dan diterima oleh Allah adalah ketakwaan yang ada pada diri kalian yang berkurban” (QS. Al-Hajj, ayat 37).

Ayat tersebut menunjukkan pentingnya ketakwaan bagi seseorang yang menjalankan ibadah kurban. Sebab, ketakwaan tersebutlah yang akan mengantarkan amal berkurban menjadi diterima Allah Swt. Dalam hal inilah terlihat poin penting dari berkurban, di mana ia harus bisa dimaknai sebagai upaya mendekatkan diri kepada Allah Swt. Atau, dengan kata lain, esensi berkurban bukan sekadar tentang ritual menyembelih hewan kurban, melainkan juga transformasi diri menuju kepribadian Muslim yang bertakwa. Bertakwa dalam arti, terbebas dari kekangan hawa nafsu dan sifat kebinatangan yang rendah (Muhbib Abdul Wahab: 2015).

Facebook Comments