Cerdas Bermedsos dengan Saring dan Sharing

Cerdas Bermedsos dengan Saring dan Sharing

YOGYAKARTA – Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) DIY bekerjasama dengan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) hari Kamis (2/8) ini menyelenggarakan pertemuan dengan tema “Saring Sebelum Sharing”.  Kegiatan  dalam rangka literasi digital upaya pencegahan terorisme dan radikalisme ini dilaksanakan di Ruang Prambanan Hotel Cavinton, Jl Letjen Suprapto, Ngampilan, Yogyakarta.

Tri Ari Astuti mewakili Ketua FKPT DIY Frof M Mukhtasar Syamsudin dalam laporannya menjelaskan kegiatan diikuti 105 orang peserta dari mahasiswa berbagai perguruan tinggi di DIY, pengelola blog, media online, utusan OPD, utusan Korem 072 Pamungkas, Polda DIY serta utusan pondok pesantren. Tujuannya, menyamakan persepsi dalam rangka pencegahan tindak radikalisme dan terorisme di tengah-tengah masyarakat.

Bertindak selaku narasumber adalah Wisnu Martha Adiputra SIP MSi dari Jakarta dengan tema ”Peta Media Sosial Lokal dalam Isu Radikalisme–Terorisme” dan Ahmad Jauhari dari Dewan Pers.

Kepala Kejaksaan Tinggi DIY Sri Harijati P dalam sambutan tertulis yang dibacakan Priwi Jeksomo antara lain mengatakan kejadian teror telah melukai hati masyarakat Indonesia dan dampaknya masih terasa sampai sekarang. ”Selain berdampak menciptakan ketakutan, juga dapat menimbulkan ketidakpercayaan  antarumat beragama. Ini dapat memicu kestabilan kemanan yang berakibat menurunnya rasa nasionalisme dan mempengaruhi kestabilan perekonomian karena berkurangnya minat investor,” katanya.

Kajati DIY lebih lanjut menyatakan penyelenggaraan kegiatan semacam ini dapat mengedukasi  masyarakat sebagai bentuk literasi digital upaya pencegahan terorisme dan radikalisme.   Kegiatan ini sangat tepat, mengingat saat ini segala sesuatu telah diwarnai digitalisasi, termasuk media.

Kasubdit Pemberdayaan BNPT dr Hj Andi Intang Dulung dalam sambutannya menekankan terorisme sampai saat ini terus menjadi ancaman  bagi  Negara Kesatuan  Republik Indonesia. Seiring perkembangan teknologi digital, masyarakat diimbau jangan begitu saja percaya kepada informasi di media sosial (medsos). Jangan langsung share tanpa disaring. Masyarakat harus berpikir panjang serta melakukan cek dan ricek.

Dia mencontohkan beredarnya berita melalui medsos seakan-akan ada makam pelaku teror dibongkar dan di dalamnya didapati mayatnya masih utuh. Berita itu sama sekali tidak benar dan bohong. Pihak keluarga si pelaku teror sendiri telah memberikan penjelasan bahwa video yang beredar itu tidak benar alias hoaks.

”Masyarakat dituntut cerdas  dan bijak  dalam  menyikapi, memilih dan memilah informasi di medsos.  Insan pers jangan berteman dengan teroris, berbahaya,” katanya mengingatkan.

Dia juga menyatakan diundangkannya Undang-undang Nomor 5 Tahun 2018 tentang Pemberantasan Tindak Terorisme merupakan upaya penanganan terorisme secara lebih tepat, sebab faktanya sampai saat ini aksi terorisme belum surut. Dibutuhkan sinergitas yang kuat dari seluruh elemen masyarakat termasuk di dalamnya adalah  aparatur kelurahan/desa agar terorisme dapat diatasi sampai ke akar-akarnya.

Usai sambutan dari BNPT dan pemaparan narasumber, kegiatan dilanjutkan dengan tanya jawab dan dialog dengan peserta.  Acara diakhiri penyerahan sertifikat dari penyelenggara.  (krn)

Facebook Comments